Sabtu, 22 November 2014

Menjarah Hutan, Perilaku abnormal

Membaca surat kabar tempo hari menyebabkan aku berfikir bagaimana seseorang itu berperilaku yang tidak berperikemanusian. Siapa yang tega hati membabat hutan yang seharusnya untuk diwariskan untuk anak cucunya nanti. Rakyat biasakah ? pemerintah, atau ada oknum-oknum lain yang tidak bertanggung jawab.
Bila dilihat dari tingkah laku para pemababat hutan tersebut, maka dapat dipastikan sebenarnya pelaku tersebut belum mencapai tahap yang mapan dalam hidupnya. Yang perlu di ungkap dari masalah tersebut adalah otak dari pelaku pembalakan liar tersebut. Walau bagaimana pun aku menulis tulisan ini dan upaya lain dari organisasi pemerintah dan non pemerintah peduli alam tidak mampu mengubah perilaku buruk pelaku kalau tidak bisa di ungkap otak dari segalanya tersebut. Dari sudut pandang psikologi yang harus diubah adalah tingkah lalu tersebut atau dalam psikologi lebih dikenal dengan modifikasi perilaku.
Satu hal yang menjadi pertanyaan besar adalah siapa yang harus dimodifikasi tingkah lakunya ? mungkinkah pemerintah juga harus dimodifikasi perilakunya padahal semua orang tahu pemerintah yang  lebih mengerti daripada rakyat jelata pada umumnya. Siapa sebenarnya otak dibalik tersebut. UU lahir setiap saat sebagai bentuk aturan yang dibuat untuk di taati dan juga untuk dilanggar. UU yang berlaku seakan tak sanggup menahan keinginan seseorang pelaku dalam melakukan suatu tindakan yang negatif. Hukum menjadi tidak seimbang karena pembuat hukum terkadang membuat hukum demi tercapai keinginanya semdiri. Itulah seni berpolitik. Tentunya seni itu ada dalam kebiasaan masyarakat yang akhirnya membudaya dalam kehidupan bernegara.
Hutan aceh adalah termasuk hutan yang terluas dibumi ini yang berfungsi sebagai jantung bumi untuk memompa kadar oksigen kepada manusia dan makhluk lainnya. Bila hutan sudah semakin rusak bagaimana kelanjutan kehidupan anak cucu dimasa depan. Hutan sebagai bahan baku untuk kehidupan manusia untuk diolah di mamfaatkan manusia. Tapi tidak juga harus merusak alam disekitar kita.
            Hutan yang seharusnya di jaga dan dilestarikan dengan memamfaatkan hasilnya dengan tidak menjarah sesuka hatinya. Ada aturan yang harus di taati yang semata-mata dibuat untuk kemaslahatan bersama. Apa semua orang saat ini pada kelaparan sehingga pekerjaan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan tapi dianggap sebagai suatu pekerjaan yang layak. Pemerintah tidak mampu menyanggupi isi perut rakyat? Dan berbagai macam pertanyaan lain yang adan dalam batang otak kepalaku.
            Dalam tulisan ini memang banyak sekali pertanyaan yang memang tidak ada jawabanya disini pula. Kenapa ? karena jawabannya ada pada tiap diri manusia itu sendiri. Ada pada masyarakat biasa, ada pada pejabat-pejabat dan ada pada pemerintah negara ini sendiri. Aku sendiri sebagai putra aceh mengecam para penjarah hutan yang tidak bertanggung jawab. Aku pula berasal dari daerah pedalaman yang tahu betul bagaimana mamfaat hutan bagi manusia.  

            

Rabu, 19 November 2014

Antara Realita dan harapan mahasiswa jantong hate rakyat Aceh

                                    
antara realita
ilustrasi (sumber google)
Saya begitu heran melihat apa yang terjadi saat ini pada kampus yang notabennya berjulukan kampusJantong Hatee Rakyat Aceh atau kampus kesayangan rakyat Aceh. Kampus yang dulu menjadi kebanggaan rakyat Aceh semakin lama semakin menjadi penyiksa tersendiri bagi jantung dan hatinya rakyat Aceh. Untuk masuk dan keluar dengan title sarjana saja putra putri Aceh harus mengelus dada serta benar-benar bersabar. Bahkan dari beberapa kasus yang ada, mahasiswa sampai menjadi gila dan malah ada yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tugas skripsi.
Masuk Susah Keluar Susah
Bisa kuliah di Universitas Syiah Kuala merupakan sebuah impian dan kebanggaan bagi sebagian masyarakat Aceh. Tetapi untuk bisa masuk ke kampus ini, kita harus berusaha dengan mengikuti tes SNMPTN, SMBPTN, dan UMB hanya untuk mendapatkan satu kursi bersaing dengan beribu orang agar bisa belajar di kampus kesayangan ini. Setelah lewat, mereka harus membayar uang pendaftaran ulang dengan biaya yang tidak cukup murah terutama yang lewat jalur UMB (Ujian Masuk Bersama) minimal harus membayar tiga juta, sungguh sangat jauh berbeda bila kita melihat pendapatan ekonomi orang tua mahasiswa yang masih di bawah rata-rata dan mengingat pekerjaannya dominan seorang petani.
Saat kalender tanggal masa kuliah sudah dimulai, masih banyak dosen yang belum memulai perkuliahan bahkan setelah beberapa bulan berjalan kuliah. Ketidakhadiran dosen mengajar perkuliahan tanpa informasi dan kejelasan yang pasti. Sehingga banyak mahasiswa yang mengeluh karena seharus rugi waktu, mereka juga rugi biaya untuk transportasi dari tempat kost ke kampus, mengingat tidak semua mahasiswa tinggal di sekitaran daerah Darussalam. Ini sungguh merugikan para orang tua yang telah membayar biaya SPP yang sangat mahal serta anaknya tidak mendapatkan ilmu sepenuh dan semestinya sesuai yang diharapkan.
Menjelang akhir masa kuliah, mahasiswa juga dibebankan dengan yang namanya skripsi. Selain harus bertarung melawan beratnya membuat tugas skripsi, mereka juga harus bersabar menghadapi dosen yang selalu mengulur-ngulur waktu untuk konsul. Bilapun bisa bertemu dosen yang bersangkutan, kebanyakan dari mereka harus merasakan kekecewa karena akan banyak coretan pada skripsi yang telah mereka buat, syukur-syukur diberikan arahan tentang skripsi yang salah oleh dosen yang bersangkutan. Karena penguluran waktu untuk konsul, mahasiswa harus membayar SPP penuh hanya untuk konsul dan memperbaiki skripsi.
Kasus Almarhum Fadliansyah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala bulan Agustus 2014 lalu, yang meninggal gantung diri karena tidak tahan terhadap tekanan keluarga dan tugas skripsinya yang tidak kunjung usai. Ini adalah gambaran nyata yang terjadi di kampus yang katanya Jantong Hatee Rakyat Aceh.
Pengelolaan UKTB, SPP, dan Beasiswa
Setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 55 Tahun 2013 mengenai Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT), melalui surat edaran dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) nomor 272/E1.1/KU/2013 mengenai ketetapan pembayaran dibagi atas 5 golongan sesuai dengan pekerjaan orang tua mahasiswa. Dalam penggolongan tersebut, golongan pertama atau tidak mampu berkisar Rp.0-Rp.500.000., golongan kedua Rp.500.000-Rp.1.000.000., golongan ketiga Rp.1.000.000-Rp.2.000.000., golongan keempat Rp.2.000.000-Rp.3.000.000., dan golongan kelima Rp.3.000.000-Rp.4.000.000., dan diikuti seterusnya berdasarkan pendapatan orang tua mahasiswa.
Di Unsyiah sendiri, sistem Uang Kuliah Tunggal Berkeadilan (UKTB) mulai diterapkan pada awal tahun kuliah 2013. Sistem  yang digunakan adalah subsidi silang, di mana yang kaya menutupi yang kurang mampu dan sistem ini memiliki tujuan yang sangat bagus. Tetapi sayangnya UKTB yang diterapkan di Unsyiah masih banyak mengalami kesalahan, terutama saat verifikasi data. Semua tidak sesuai yang terjadi di lapangan. Kurangnya tim survey untuk memantau langsung menjadi faktor utama karena masih banyak mahasiswa yang tidak mengisi data pendapatan orang tua sesuai dengan aslinya.
Bila berbicara tentang UKTB, lalu apa dampaknya bagi SPP mahasiswa lama? Sejak diterapkan UKTB di Unsyiah, biaya SPP semester pendek yang sebelumnya Rp.75 ribu per sks, kini naik menjadi 100 ribu persks. Kenaikan ini awalnya tidak ada kejelasan yang pasti dari pihak rektorat. Tetapi setelah dilakukan demo oleh beberapa mahasiswa, keesokan harinya pihak rektorat baru memberikan kejelasan dengan alasan untuk membayar dosen yang mau bekerja di saat libur. Padahal seperti kita ketahui selama dua tahun biaya SPP semester pendek tidak pernah naik. Selain itu, biaya SPP semester juga mengalami kenaikan sebesar Rp.80 ribu, tanpa penjelasan yang pasti sampai sekarang untuk apa dan kemana alokasi uang tersebut.
 Mengenai tentang dana beasiswa, kebanyakan dari mahasiswa yang menerima beasiswa tersebut semua bisa dikatakan setingkat mampu. Menurut pantauan saya, hampir seluruhnya memiliki sepeda motor, hp canggih, bahkan ada juga yang memiliki mobil. Lagi-lagi tim survey dan verifikasi mengalami kebocoran dalam menangani hal ini. Selain itu, mengenai penerimaan beasiswa PPA dan BBM banyak terjadi nepotisme dalam penyeleksian sehingga penerima hanya orang tertentu saja yang mendapatkannya. Ini sungguh disayangkan bila beasiswa tersebut tidak tepat sasaran baik itu penerima beasiswa Bidik Misi, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa), dan beasiswa lainnya.
Untuk beasiswa Bidik Misi, berdasarkan info dari teman yang berasal dari universitas lain dan berdasarkan media yang saya baca, dana per semester yang diterima mencapai Rp.6 Juta. Besarnya dana itu sungguh sangat menggiurkan. Tetapi sayangnya, dilapangan yang terjadi mengapa di Unsyiah hanya mendapatkan Rp.3,9 juta? Yah, mungkin sudah dipotong dana kantong sana-sini. Selain itu, sekarang mahasiswa penerima beasiswa bidik misi harus dibebankan membuat sebuah proposal kreativitas agar dana bidik misi bisa keluar.
Renovasi di Atas Penderitaan Mahasiswa
Bila kita berjalan di Kopelma terutama jalan protokolan kampus Unsyiah, mata kita akan dimanjakan dengan pembongkaran trotoar, pengerjaan penggalian kabel PT. Anggara Tri Multi, dan pelebaran jalan. Jalan serta trotoar dan lintasan lari di lapangan taman Unsyiah yang masih layak dan bagus malah dibongkar. Secara tidak langsung pengerjaan itu sudah menggangu kenyamanan dalam menggunakan fasilitas kampus.
Melihat renovasi yang dilakukan oleh pihak rektorat hanya untuk mempercantik wajah Unsyiah dari luar, sungguh menimbulkan pertannyaan dalam hati saya. Buat apa mempercantik luar bila di dalam masih banyak yang perlu diperbaiki? Tidak tahu apa kegunaannya, atau ingin menghamburkan anggaran diakhir tahun? Kenapa saya katakan demikian? karena pengerjaan itu dilaksanakan di saat mahasiswa sedang mengalami kesulitan akan keuangan untuk membayar SPP, terutama bagi mahasiswa angkatan 2013 dan 2014, yang dibebankan dengan pembayaran UKTB dengan biaya selangit.
Selain itu, padahal masih banyak mahasiswa-mahasiswa Unsyiah yang bekerja disela-sela waktu kosong kuliah, berdagang, bahkan ada yang mengamen diluar sana hanya untuk menutupi biaya kuliah. Mereka ada yang tidak terjamah dengan yang namanya beasiswa.  Dan masih banyak kampus-kampus dari Fakultas yang ada di Unsyiah yang seharusnya mendapatkan perhatian serius, seperti Fakultas Kelautan dan Perikanan yang masih menggunakan tempat belajar di puskesmas lama, Kampus FKIP Penjaskesrek, dan Kampus FKIP PGSD yang berada di Lampeuneurut.
Saran saya sebagai mahasiswa Unsyiah, saya sangat berharap bila para dosen agar sangat memikirkan kewajiban dari hak yang telah diterima. Karena tidak semua orang tua mahasiswa mudah mendapatkan uang untuk membiayai kuliah anaknya. Dan mengenai skripsi, harap saya dosen sedikit berbaik hati dalam menguji mahasiswa tingkat akhir, janganlah terlalu dibebankan dan buatlah semampu mahasiswa. Berilah solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapi dan jangan memberikan api yang bisa menyiksa diri. Kejadian Almarhum Fadliansyah merupakan pukulan dan menjadi intropeksi tersendiri bagi dosen yang ada di Unsyiah dan berbenah dari kasus yang terjadi pada almarhum.
Buat tim verivikasi UKTB dan beasiswa, alangkah baiknya mengajak kerjasama pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan tempat tinggal mahasiswa, seperti Pak Geucik dan kepala lorong agar lebih mudah menyesuaikan data yang ada. Untuk pihak rektorat apabila ada kebijakan mengenai kenaikan SPP, berilah audiensi dan laporan yang pasti kemana uang itu dipergunakan. Sebab sebagai mahasiswa, kami yang memiliki kewajiban membayar SPP juga harus tahu kemana dan untuk apa uang itu.
Mengenai perenovasian mohon pihak rektorat memikirkannya kembali ditahun yang akan datang. Alangkah baiknya apabila anggaran yang lebih setiap tahun tersebut dipergunakan untuk membeli kelengkapan fasilitas yang diperlukan oleh setiap fakultas agar mahasiswa bisa lebih giat dan semangat dalam belajar dan mengembangkan ilmu yang telah mereka dapatkan.
Kampus yang dibangun oleh darah, keringat dan kerjasama orang Aceh kini lebih menjadi air mata bagi putra-putri Aceh sendiri. Dengarlah wahai pihak rektorat, jangan biarkan air mata itu mengalir, sebab air mata akan mengeluarkan darah dan darah itu sangat berarti. Hapuskan air mata kami sebagai mahasiswa Unsyiah yang selalu menangis melihat kejadian ini. Karena sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1, ”setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”. Jadikanlah kampus Unsyiah ini menjadi lumbung yang menghasilkan para intelektual muda yang berguna untuk Aceh karena kampus ini didirikan dengan penuh perjuangan dan memiliki arti besar dalam sejarah Aceh.

Penulis adalah Mhd. Saifullah, warga Himpunan Mahasiswa Sejarah FKIP Unsyiah dan Anggota Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FKIP

Editor: Hilda Rahmazani

sumber : WWW.DETaK-UNSYIAH.COM


Menanti Asa Kampus Siaga Bencana

Menanti Asa Kampus Siaga Bencana

Oleh T Riki Azhari

menanti asa kampus siaga bencana
ilustrasi

Tsunami tampaknya kurang memberikan pelajaran berharga bagi sebagian masyarakat Aceh. Musibah maha dahsyat yang digadang – gadang sebagai salah satu bencana terbesar abad 21 tersebut belum dipelajari secara menyeluruh untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, atau mungkin dipelajari dalam berbagai penelitian, namun tidak diaplikasikan dalam kehidupan. 10 tahun tsunami Aceh berlalu dengan segenap kisah yang ditinggalkan, namun belum ada perhatian khusus untuk mencegah kejadian serupa terulang, minimal usaha – usaha untuk meminimalisir dampak dari musibah tersebut utamanya di Universitas Syiah Kuala sebagai tempat berkumpul para intelektual.
Berkaca pada gempa 11 april 2012 silam, tampak Mahasiswa, dosen, dan seluruh elemen kampus panik ketika Aceh diguncang gempa berkekuatan 8,1 SR, yang terjadi tepat ketika kegiatan perkuliahan sedang berlangsung. Akses darussalam-lanyong tepatnya di Jembatan Lamnyong macet total. Kendaraan yang menuju dan keluar dari darussalam memenuhi jempatan tersebut dan hampir tidak bergerak. Bayangkan seandainya waktu itu tsunami benar-benar datang, seluruh manusia di atas jembatan akan terseret arus yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai. Padahal selain jalan menuju ke lamnyong, akses dari darussalam menuju ke tempat yang aman masih tersedia. Jalan limpok (belakang akultas Kedokteran) maupun jalan menuju bandara melalui tungkop adalah beberapa alternatif disamping jalan-jalan “tikus” yang melewati perumahan warga. Namun sayangnya, jalan tersebut belum banyak di ketahui oleh mahasiswa bahkan oleh dosen sehingga semuanya berlomba untuk menuju ke arah lamnyong yang  sudah sangat padat. Tidak ada juga tim siaga bencana di Unsyiah membuat kekacauan menjadi semakin bertambah. Mahasiswa dan dosen bergerak tak karuan tanpa ada yang mengorganisir, panik dan tidak tau harus kemana. Seharusnya, sebagai “kandang” intelektual Unsyiah menjadi contoh bagi masyarakat bagaimana memanajemen massa ketika bencana terjadi.
Univeristas Syiah Kuala (Unsyiah) sebagai institusi pendidikan tinggi tertua dan terbesar di Aceh telah memiliki program studi magister kebencanaan sejak beberapa tahun silam. Unsyiah juga memiliki lembaga penelitian kebencanaan yaitu Tsunami & Disaster Managemen Research Center (TDMRC). Dalam tataran kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSR PMI Unit Unsyiah juga telah berdiri sejak lama. Namun menjadi pertanyaan adalah, dengan segenap kapasitas yang ada dan pengalaman yang pernah di alami, unsyiah belum juga menyadari arti penting dari kesiap-siagaan bencana. Buktinya hingga saat ini, belum pernah ada pencanangan Kampus Siaga Bencana pada Universitas “jantong hatee rakyat Aceh” ini. Padahal, universitas lain yang notabene daerahnya cenderung lebih stabil telah jauh hari mencanangkan program tersebut sebagai langkah preventif untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB).
Kampus Siaga Bencana (KSB) adalah kegiatan pengurangan resiko bencana yang berfokus pada kampus. Kampus merupakan tempat para civitas akademik selaku agen perubahan yang akan menjadi subyek untuk menyebarkan informasi mengenai Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Kedepannya diharapkan para mahasiswa yang akan atau telah berkiprah di masyarakat seperti dalam kegiatan bakti sosial, desa binaan, maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan dapat terus berperan dalam penyebaran pengetahuan tentang pengurangan resiko bencana atau siaga bencana. Dengan keterlibatan kampus nantinya akan tumbuh kepedulian terhadap pengurangan resiko bencana secara massal. KSR PMI, Pema, BEM dan seluruh elemen Perguruan Tinggi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan kampus siaga bencana yang berfungsi sebagai pintu masuk dan juga penggerak serta pendorong kegiatan pengurangan resiko bencana di kampus. Dalam kegiatannya kampus siaga bencana melibatkan semua stack holder kampus mulai dari rektor, Pemerintahan Mahasiswa/Badan Eksekutif Mahasiswa sampai penjaga kampus dan kantin – kantin yang ada di kampus serta masyarakat sekitar kampus.
Untuk mencapai hal tersebut, perlu adanya pencanangan kampus siaga bencana pada Universitas Syiah Kuala dan menjalankan program-program penting agar seluruh warga kampus bisa lebih siaga dan siap ketika bencana terjadi sebagai model bagi masyarakat kita dalam menanggapi bencana. Beberapa langkah dapat dilakukan diantaranya pembentukan tim siaga bencana dengan bekerja sama dengan KSR PMI unit Unsyiah, Sosialisasi dengan memasukkan mata kuliah kebencanaan dalam kurikulum Unsyiah, pemasangan penunjuk arah evakuasi dan melaksanakan simulasi bagi seluruh civitas akademika.
T. Riki Azhari

Mahasiswa Prodi Psikologi Unsyiah, 2011


Sumber : www.DETaK-unsyiah.com, 

Rintik-rintik hujan

Di teras rumah aku duduk menatap rintik-rintik hujan yang jatuh membasahi
Tiap tanah dipermukaan bumi yang dilanda kemarau panjang
Sudah lama keadaan tidak terjadi seperti ini
Dulu sewaktu aku masih kecil sering bermain hujan
Saling membasahi dengan hujan yang turun membasahi setiap

Helai rambutku ini sewaktu aku sudah mengerti akan sebuah kisah kasih antara sepasang manusia yang hidup diatas muka bumi ini. Masih saja ada sekumtum rindu antara kita dan dua dunia yang kita tempati. 

Sabtu, 24 Mei 2014

mimpi

 
mimpi
mimpi
Mimpi yang indah dalam kepala saat kita bermimpi
Di siang bolong yang terik dengan cahaya mimpi
Dari keindahan  akan rasa mimpi
Tak mampu ku sanjungi dua mimpi
Yang kadang membuat kita
Tak memahami apa yang telah terjadi
Di saat mimpi ini semakin membelenggu
Apa yang sedang terjadi dalam ketidakpastian ini
Ku hanya ingin bisa terbang ketika ini tak ada


Banda aceh
Sabtu 24 mei 2014

02:38 

Kamis, 08 Mei 2014

Tak jelas

Aku tak ingin bayangan itu dalam khayal ketika aku tak mampu mewujudkan dalam realita yang ada dalam kehidupan saat ini. Aku duduk di atas kursi yang mungkin merasa perih karena ku duduki selalu walau hanya benda tak hidup. Ingin ku tulis semua nya di sini apa yang sedang aku rasakan. Sudah lama aku ingin menulis tentang  satu ini,tapi waktu tidak tepat dan keadaan yang belum memungkinkan. Seorang mahasiswa ber ideologi tidak jelas bercoleteh tentang kampus tempat dia menuntut ilmu pasti.

Sabtu, 26 April 2014

Kata kata


Dalam setiap kata yang hadir dalam hidup ini
Tak kan ada yang bisa membuat kita
Memahami apa yang sedang terjadi
Kini aku bisa mengerti
Aku yang  tak pernah bisa
Memahami apa saja yang telah datang
Dalam dekapan hidup yang selalu membuatku
Berfikir apa saja
Yang mungkin tak bisa ku mengerti
Terasa sangat tidak mungkin untuk membuat
Kita memahami
Saat-saat yang tak bisa ada dalam kehidupanku
Di bagi dengan satu hal yang tidak bisa ku mengerti
Aku ingin hidup dengan tenang
Dalam ketidakpastian yang datang silih berganti dalam hidup yang
Tak ingin ku sampaikan dengan satu kata yang tak mungkin untuk
Di sampaikan dengan aturan yang bisa menjadi satu hal yang aku sendiri tak ingin
Di mengerti dengan satu dua tiga kata yang datang 

Kamis, 27 Maret 2014

terpaku

menerka apa yang sudah terjadi dalam kehidupan
yang makin membuat aku tak mengerti akan
segala sesuatu yang telah ada
ada saat nya kita diam menyaksikan apa yang terjadi

Senin, 24 Maret 2014

tak tau

bila saat nya kita harus berhenti menemui
semua kegagalan yang membuat kamu harus
menjauhi semua yang telah engkau lalui dengan
bersusah payah
saat nya kamu untuk melangkah dengan hati hati
yang membuatmu berfikir tentang apa yang harus kamu lakukan
lakukan saja apa yang membuat mu seperti itu


Kamis, 20 Maret 2014

wali nanggroe

Sebuah sebutan yang agung
agung dalam budaya
adat istiadat aceh
aceh negeri kesayanganku
tempat ku perjuangkan fikiranku
yang berkecamuk setiap hari
Pantas kah negeri ini memiliki seorang wali
seorang yang mengerti soal budaya
adat budaya suku bangsa aceh
bila memang di sanjung sanjung kan
bila memang di elu elukan
kenapa terjadi hal yang tak pantas
di lakukan
Bukan karena kekuasaan
bukan karena kehausan
bukan karena jabatan
tapi apa ?
entah lah



saat

Sampai kapan cahaya datang
Dalam kesenjaan hati ini
Kadang dua kata tak mampu
Menikmati aroma kehidupan

Di saat hati menjadi batu
Saat luka tak bisa kering
Saat air tak lagi jernih
Sudah hilang sesuatu panaroma

Akan kah ada saat
Dimana orang diam
Diam menghanyut kan
Porak berkeping di dalam
wadah kehidupan
Saat nya akan tiba
Tak datang bila kita tak pergi

Tak mati bila tak hidup,,,.,.,,,

datang lah !

Satu kata yang datang
Menghampiri mu
Di saat kau lelap
Dalam mimpi buruk mu
Di saat kau mengerti akan semua
Yang telah terjadi dalam hidup mu
Kini semua akan terjadi
Bila tidak ada
Yang harus kau lupakan
Mimpi burukmu
Menghiasi kepala mu
Menghiasi otak dan angan anga mu
Setelah semua yang kini
Bila harus berakhir denagn semua yang telah

Di lalui dengan ini.,..,

Rabu, 19 Maret 2014

suatu

Di sini ku coba mendapatkan suatu
Yang membuat kau bisa berfikir
Tentang makna apa yang harus
Di fahami
Alam membuatku
Terbang dalam keadaan
Dimana aku tak mampu berfikir
Yang tak ingin ku akhiri dengan sia sia.

Karya : isvani
04  maret 2014

00:27

pagi

Pagi ini
Ku duduk di kantin
Dalam kesewenangan
Fikiran yang tak menentu
Ku coba untuk berfikir
Tentang semua yang telah terjadi

Fikiran ku tak ayal
Ingin melaju kemana
Yang ingin ku gapai
Dengan segala
Kerendahan hati

Ku ingin selalu menjadi
Suatu yang biasa
Membuatku melaju
Keiringan malam
Yang mengharuskan ku

Memasuki alam sementara ini.

Senin, 17 Maret 2014

bumi kami

Betapa tidak kami terperangah
Bila melihat isi tanah
yang kami pijak
setiap mata terbuka
dari tempat kami bermimpi

isi nya di isap
tanpa ampun, tanpa
mengenal matahari
tak terang lagi
mengapa terjadi ?
apa tak ada lagi
pemimpin yang kami
elu elu kan ?

jangan bersembunyi
di balik dinding
tembok muka mu
buka mata
jangan jadi kan negeri ini
seperti tak ada lagi ruh.


Selasa, 11 Maret 2014

mimpiku





Ketika suatu mimpi
datang dalam tidur mu
maka saat itu kau akan
memberi senyuman manis ku  di mata indah mu
mala mini kau bermimpi tentang ku
tentang kenangan masa lalu
menjadi sebuah yang indah di suatu masa kita
akan mengenang nya

Saat ini aku melihat secercah wajah mu
dalam angan angan ku
aku rindu saat kamu di sampingku
saat mata ini saling menatap
tubuh berontak fikiran berkecamuk

Suatu ketika saat semua ini harus berganti
dengan suatu yang tidak bisa di pahami
angin kehidupan menghembus kan fikiran
dalam syahdu kehidupan ku saat ini

Lambaian perasaan ku terasa mengikat lengan ku
menghimpit semua rasa dalam kegilaan
yang mungkin tak pernah bisa ku lepas kan
andai saja engkau di saat ini di samping ku
di saat kita tak mungkin bisa merasakan arti dari sebuah
makna percintaan yang tak bisa di gantikan dengan
apa yang harus di lakukan dengan bimbang ….
…………………………………………………




23: 08 / 18 December 2013

Senin, 10 Maret 2014

SIA SIA



Di sini ku coba mendapatkan suatu
Yang membuat kau bisa berfikir
Tentang makna apa yang harus
Di fahami
Alam membuatku
Terbang dalam keadaan
Dimana aku tak mampu berfikir
Yang tak ingin ku akhiri dengan sia sia.

Karya : isvani
04  maret 2014
00:27

DATANG



Satu kata yang datang
Menghampiri mu
Di saat kau lelap
Dalam mimpi buruk mu
Di saat kau mengerti akan semua
Yang telah terjadi dalam hidup mu
Kini semua akan terjadi
Bila tidak ada
Yang harus kau lupakan
Mimpi burukmu
Menghiasi kepala mu
Menghiasi otak dan angan anga mu
Setelah semua yang kini
Bila harus berakhir denagn semua yang telah
Di lalui dengan ini.,..,